Terus terang saya agak bingung untuk cerita mengenai Singapore soalnya semenjak tahun 1982 saya sering bolak balik kesini. Dulu biasanya saya menginap di Phoenix Hotel dekat Orchard Road kemudian pidah di beberapa hotel di Marina dan sekitar Cityhall, pernah juga menginap di Brighton Hotel – Sentosa yang wah mahal banget. Semua itu terjadi karena memang pekerjaan saya menuntut sering ke Singapore.
Keramaian pada tahun 1980an terpusat di Orchard Road dengan Lucky Plaza nya atau Singapore Plaza dekat Orchard, kalu sekarang ada Takashimaya yang dulu merupakan Kedutaan Indonesia atau bagi penggemar electronic biasanya pergi ke Sim Lim Tower / Sim Lim Plaza [Glodok nya Singapore] dan karena kantor regional saya dulu terletak di Bukit Timah Road maka setiap makan siang ya bisa ke Sim Lim yang terletak tidak jauh, cuma ya harus pinter nawar harga kalau nggak bisa jadi lebih mahal dari Jakarta apalagi tidak bisa ada jaminan garansi.
Bisa juga ke Mustapha Super market yang harganya agak miring, seperti Tanah Abang lah kalau disini atau kalau sore menjelang malam ya ke Arab Street, sekali lagi harus pintar nawar.
Di Singapore biasanya saya jalan kaki saja karena udaranya enak dan sekalian cuci mata atau naik Metro, sangat jarang naik bus kecuali kalau mau ngirit dari Airport naik bus turun dekat Orchard cukup Sin$ 2 saja [dulu] dibanding naik taxi yang Sin$12,-.
Punya teman akrab di Pasir Ris menyebabkan saya sering juga kesana .. sayang saat ini saya kehilangan kontak dengan Sulaiman, teman saya ini, karena dia kembali ke Malaysia.
Kalau mau makan Sea food, tempat yang enak biasanya di East atau West Coast, harga pasti lebih mahal daripada di Jakarta tetapi suasananya sangat enak.
Saya melihat perkembangan Singapore saat ini makin bersih dan banyak gedung baru, sungai yang dulu kotor bisa disulap jadi bersih bisa menjadi tempat bersantai, tetapi karena kota/negara ini kecil rasanya satu atau dua hari saja semua bisa dilihat ..
Kalau kita mau ke Johor Malaysia menggunakan mobil, kita tinggal lewat jembatan saja tetapi pasti oleh petugas perbatasan dilihat dulu isi bensin kita berapa dan akan di check lagi saat kembali. Kalau ketahuan kita isi full tank padahal saat berangkat isinya kosong ya terpaksa didenda karena memang harga bensin di Malaysia lebih murah sehingga banyak orang yang memanfaatkannya .. biasa cari untung dikit.
Orchard road, terutama Lucky Plaza biasanya tempat kumpulnya TKW asal Philipina, jadi kalau sabtu malam ramai sekali bahasa Tagalog disitu sedangkan di Marina Bay biasanya pusat temunya TKW Indonesia … nah bahasa jawa menguasai disini, rupanya ada pembagian kekuasaan.
Soal Makanan bukan masalah besar, setiap apartmen umumnya ada court buat makan, mereka tidak terbiasa memasak dirumah mungkin karena kesibukan pekerjaan, mau makan ala China, Malaysia sampai rendang ada tinggal pilih sesuai selera. Bagi orang Indonesia yang umumnya belum makan kalau belum makan nasi pasti tidak bakal kelaparan, asal ada duitnya saja.
Pada tahun 1995, saya pernah naik Kereta Api [walau nggak ada apinya] dari Kuala Lumpur berangkat jam 8 pagi [karena itu nama kereta api ini "Sinaran Pagi"] sampai di Singapore sekitar jam 13:30, anehnya stasiun Kereta di Singapore ini punya Malaysia, mungkin orang Singapore males ngurusin Kereta Api karena sudah ada Metro. Saat berada di Kereta dan turun di Stasiun ya masih Malaysia tetapi begitu melangkah keluar sudah Singapore, ini pengalaman cukup unik.
Mau ke Batam naik Ferry juga bisa, anda tinggal ke WTC tempat dermaganya dan harga tiket sekitar Sin$24,- setengah jam kemudian kita sudah mendarat di Sekupang Batam. Saya pernah coba ini tahun 1994.
Satu hal yang saya sukai, banyak sekali informasi mengenai apa saja yang ada di Singapore sejak kita turun dari Pesawat Terbang dan juga hampir setiap hari ada diskon di surat kabar, bagi yang hobby berburu barang tentu ini sangat berguna.
Hard Rock cafe tempat biasa saya beli pin kalau berkunjung kesuatu negara terletak tidak jauh dari Lucky plaza, kearah utara sekitar 200 meter kemudian belok kekanan nah sudah sampai, saya lupa nama jalannya.