Asia


Hongkong merupakan negara pertama yang saya kunjungi pada tahun 1982, saat hendak ke Tokyo mengguinakan Cathay Pacific, saya stop over semalam di Hongkong dan sejak itu saya berkesempatan beberapa kali datang kenegara kecil ini berkaitan dengan pekerjaan saya saat itu.

hongkong_2.jpgKarena padatnya orang yang tinggal disana, jadi kesannya tidak nyaman dan selalu berdeak-desakan, pertama kali datang ditahun 1982 sih masih OK, tetapi berikutnya sampai tahun 1998 menjelang berpindah tangan ke Pemerintahan China terasa sekali sesaknya.

hongkong_3.jpg

Lalu lintas dari dan ke Hongkong sangat ramai, baik melalui udara atau laut, Bandara Hongkong ,Kaitak, sangat pas-pasan didarati oleh pesawat besar seperti Boeing 747, perlu keahlian khusus dari sang pilot. Ada satu masjid besar yang terletak dekat Tsim Sat Sui [bener nggak ya nulisnya] yang selalu ramai saat bulan puasa dan dekat mesjid ini lewat samping kirinya kemudian berbelok kekanan sedikit terletak Hard Rock Cafe yang selalu saya kunjungi disetiap negara yang pernah saya datangi.

Terus terang saya agak bingung untuk cerita mengenai Singapore soalnya semenjak tahun 1982 saya sering bolak balik kesini. Dulu biasanya saya menginap di Phoenix Hotel dekat Orchard Road kemudian pidah di beberapa hotel di Marina dan sekitar Cityhall, pernah juga menginap di Brighton Hotel – Sentosa yang wah mahal banget. Semua itu terjadi karena memang pekerjaan saya menuntut sering ke Singapore.

Keramaian pada tahun 1980an terpusat di Orchard Road dengan Lucky Plaza nya atau Singapore Plaza dekat Orchard, kalu sekarang ada Takashimaya yang dulu merupakan Kedutaan Indonesia atau bagi penggemar electronic biasanya pergi ke Sim Lim Tower / Sim Lim Plaza [Glodok nya Singapore] dan karena kantor regional saya dulu terletak di Bukit Timah Road maka setiap makan siang ya bisa ke Sim Lim yang terletak tidak jauh, cuma ya harus pinter nawar harga kalau nggak bisa jadi lebih mahal dari Jakarta apalagi tidak bisa ada jaminan garansi.

Bisa juga ke Mustapha Super market yang harganya agak miring, seperti Tanah Abang lah kalau disini atau kalau sore menjelang malam ya ke Arab Street, sekali lagi harus pintar nawar.

Di Singapore biasanya saya jalan kaki saja karena udaranya enak dan sekalian cuci mata atau naik Metro, sangat jarang naik bus kecuali kalau mau ngirit dari Airport naik bus turun dekat Orchard cukup Sin$ 2 saja [dulu] dibanding naik taxi yang Sin$12,-.

Punya teman akrab di Pasir Ris menyebabkan saya sering juga kesana .. sayang saat ini saya kehilangan kontak dengan Sulaiman, teman saya ini, karena dia kembali ke Malaysia.

Kalau mau makan Sea food, tempat yang enak biasanya di East atau West Coast, harga pasti lebih mahal daripada di Jakarta tetapi suasananya sangat enak.

Saya melihat perkembangan Singapore saat ini makin bersih dan banyak gedung baru, sungai yang dulu kotor bisa disulap jadi bersih bisa menjadi tempat bersantai, tetapi karena kota/negara ini kecil rasanya satu atau dua hari saja semua bisa dilihat ..

Kalau kita mau ke Johor Malaysia menggunakan mobil, kita tinggal lewat jembatan saja tetapi pasti oleh petugas perbatasan dilihat dulu isi bensin kita berapa dan akan di check lagi saat kembali. Kalau ketahuan kita isi full tank padahal saat berangkat isinya kosong ya terpaksa didenda karena memang harga bensin di Malaysia lebih murah sehingga banyak orang yang memanfaatkannya .. biasa cari untung dikit.

Orchard road, terutama Lucky Plaza biasanya tempat kumpulnya TKW asal Philipina, jadi kalau sabtu malam ramai sekali bahasa Tagalog disitu sedangkan di Marina Bay biasanya pusat temunya TKW Indonesia … nah bahasa jawa menguasai disini, rupanya ada pembagian kekuasaan.

Soal Makanan bukan masalah besar, setiap apartmen umumnya ada court buat makan, mereka tidak terbiasa memasak dirumah mungkin karena kesibukan pekerjaan, mau makan ala China, Malaysia sampai rendang ada tinggal pilih sesuai selera. Bagi orang Indonesia yang umumnya belum makan kalau belum makan nasi pasti tidak bakal kelaparan, asal ada duitnya saja.

Pada tahun 1995, saya pernah naik Kereta Api [walau nggak ada apinya] dari Kuala Lumpur berangkat jam 8 pagi [karena itu nama kereta api ini "Sinaran Pagi"] sampai di Singapore sekitar jam 13:30, anehnya stasiun Kereta di Singapore ini punya Malaysia, mungkin orang Singapore males ngurusin Kereta Api karena sudah ada Metro. Saat berada di Kereta dan turun di Stasiun ya masih Malaysia tetapi begitu melangkah keluar sudah Singapore, ini pengalaman cukup unik.

Mau ke Batam naik Ferry juga bisa, anda tinggal ke WTC tempat dermaganya dan harga tiket sekitar Sin$24,- setengah jam kemudian kita sudah mendarat di Sekupang Batam. Saya pernah coba ini tahun 1994.

Satu hal yang saya sukai, banyak sekali informasi mengenai apa saja yang ada di Singapore sejak kita turun dari Pesawat Terbang dan juga hampir setiap hari ada diskon di surat kabar, bagi yang hobby berburu barang tentu ini sangat berguna.

Hard Rock cafe tempat biasa saya beli pin kalau berkunjung kesuatu negara terletak tidak jauh dari Lucky plaza, kearah utara sekitar 200 meter kemudian belok kekanan nah sudah sampai, saya lupa nama jalannya.

Karena sesuatu hal dan entah kenapa saya mendapat kesempatan tinggal di Yangon Myanmar [dulu Burma] dari 2 September 1997 sampai 31 Mei 1998 untuk memimpin salah satu anak perusahaan kelompok Astra. Semua orang saya yang terdiri dari 7 orang berkebangsaan Myanmar.
Sebetulnya plan awal saya berdua dengan teman, tetapi baru 1 bulan teman saya ditarik ke Jakarta. Myanmar terkenal dengan negara yang mayoritas beragama Budha (85%), sisanya beragama Kristen (10%) serta Islam (5%) dan terdapat seribu pagoda (mungkin di Yangon dan sekitarnya saja lebih kalau dihitung satu persatu). Setiap ada gundukan tanah agak tinggi pasti ada pagodanya, mungkin sama de
ngan banyaknya masjid dinegara kita. Kepercayaan mereka terhadap reinkarnasi juga besar, pernah suatu saat saya berbicara dengan seorang General Manager suatu Bank Pemerintah, dia menyatakan pernah tinggal didekat Bogor … waktu saya tanya kapan ke Indonesia dia jawab belum pernah … lhooo kok bisa, usut punya usut ternyata menurut dia saat dia tinggal dekat Bogor itu saat kehidupan dia sebelum ini … waaah, mungkin penduduk Bogor harus siap-siap tinggal di Myanmar dikehidupan masa depan hehehehe.
Yangon [dulu Rangon] kotanya agak unik dengan bangunan zaman kolonial Inggris, pohon sangat banyak dipinggir sepanjang jalan rayanya.

shwedagon.jpg Pagoda yang terkenal di Yangoon bernama Swedagon Pagoda dan diyakini sudah ada sejak 2500 tahun lalu, artinya kebudayaan disini sudah termasuk lama sekali.

mahabandoolagarden-independenceday.jpg
Lapangan seperti Monas di Jakarta dikenal sebagai Lapangan Mahabandola, lengkap dengan Menaranya biasa disebut Tugu kemerdekaan ..

Tidak banyak tempat hiburan di Yangon, suasana seperti Jakarta tahun 1970, banyak kendaraan eks Singapore/Malaysia atau China, tetapi kendaraan yang super mewah juga banyak. Umumnya kendaraan di Myanmar berwarna putih [mungkin lebih dari 50%].

Orang Myanmar hampir semuanya pakai sarung sebagai pakaian sehari-hari dan juga memakai sandal walaupun kekantor, kebanyakan mereka membawa rantang untuk makan siang dengan masakannya yang khas. Makanan favorit mereka namanya Mohinga yang kurang kena dilidah saya, saya hanya tahu satu masakan yang bisa masuk perut yaitu Tamin Cho, Nasi Goreng hehehehe .

Udara di Yangon lembab dan sering hujan terutama dari bulan November, tetapi saat bulan Maret udaranya panas sekali, saya mengalami sampai 45 derajat C, saat itu biasanya ada Water Festifal, dimana orang bebas menyiram air kepada siapapun dan tidak boleh marah, ini pesta rakyat, banyak orang Myanmar perantauan pulang kampung seperti saat lebaran kalau di Indonesia.
Mata uang Myanmar namanya Kyat (baca Chat), pada kenyataannya ada 3 mata uang yang berlaku yaitu Kyat, US$ dan FEC. FEC ini dikeluarkan oleh pemerintah Myanmar dengan kurs 1 USD = 1 FEC.

Hati hati dengan kurs dari ketiga mata uang tersebut, ditahun 1998 antara kurs yang ditetapkan pemerintah dengan kurs pasar bisa berbeda 60 kali lipat. Resminya 1 USD = 5 Kyat tetapi dipasar bebas 1 USD = 285 s/d 300 kyat.

bogyoke-market.jpg Tempat favorit belanja ada di Bogyoke Market, Bogyoke artinya Jendral, jangan bayangkan seperti Ambasador mal atau Kelapa Gading ya, seperti pasar Rawa Bening deh, tapi bagusan dikit. Anda bisa belanja menggunakan Kyat atau USD atau FEC, nah kelihaian menghitung kurs sangat diperlukan. Anda mau cari batu permata, kerajinan tangan yang indah atau barang antik semua ada, asal pintar menawar maka barang itu bisa menjadi milik anda, mereka juga sangat percaya pada orang, kalau sudah kenal walau tidak dekat kadang kita hutangpun dikasih … padahal belum tentu kita kembali lagi ke Myanmar, mungkin karena mereka percaya hukum Karma jadi kalau tidak bayar hutang ya silahkan ditanggung sendiri karmanya.
Myanmar terkenal dengan Ruby dan Safir nya, hampir setiap tahun ada 3 kali lelang besar yang dihadiri pembeli dari manca negara, ini resmi dikuasai pemerintah.

Pembukaan perusahaan yang saya pimpin dilakukan di Hotel Trader, sedangkan kantor saya terletak di Summit Parkview Hotel lantai II.

summitparkview.jpg Saya sendiri sempat selama 6 bulan tinggal di lantai 4 hotel ini dengan fasilitas dapur kecil, tetapi rasanya bosan sekali nggak bisa kemana-mana, apalagi kalau sudah malam hari, paling ngobrol dengan beberapa teman dari beberapa negara yang sama sama tinggal di hotel tersebut. Saat puasa merupakan saat yang sedih dan gembira, Sedih karena saya jaug keluarga, gembira karena banyak teman2 dari Kedutaan yang mina dibuatkan wadah ketupat dari janur, hehehe tukarannya opor dan rendang saat hari raya. Kemudian saya tinggal dirumah yang kami sewa bersama dengan beberapa teman, biaya jauh lebih murah tapi listrik sering mati [giliran] serta sangat tidak stabil tegangannya.
Hubungan dengan KBRI juga baik, yang jadi Duta Besar saat itu Bapak Lenggono, KBRI di Yangon termasuk KBRI kelas 1, begitu juga dengan sesama perusahaan yang berasal dari Indnesia, hampir setiap hari sabtu pasti kami ngumpul dan makan masakan Indonesia yang dimasak oleh ibu-ibu dari Kedutaan.

Pejabat dari Pemerintahan kita juga sering berkunjung Yangon, biasanya kami diundang bertemu, antara lain Jend [Purn] Faisal Tanjung juga pernah berkunjung ke Yangon, begitu juga Letjen [Purn] Prabowo S sering ke Myanmar. Sayang Krisis moneter melanda Asia diawal 1998 sehingga walau kami punya beberapa client penting ya saya diminta kembali ke Jakarta walau tadinya kita punya plan membangun cabang di Vietnam dan Laos.

Next Page »